Wednesday, September 23, 2009

Find Our Love Again


I wish and never let you go
I’ll take you home but the time seem sadness
I know it’s the dark park of the town
Nothing to say..when everything is gone
I know it’s hard to be somebody
Sometimes when I’m walking down the rain
To find our love again..!!
Last things I remember
I was walkin’ in the rain
Tryin’ to find the other sight
I know it’s more than just a right
Baby there’s a million dreams
The more will come the other night
Some say it remember
Some makes me forget…!
When the love is gone
And you’re miles away
The night won’t tell me what happened today
It’s more than just…balls ‘n’ chain
I feel like…I’m insane
When the days turn dark
And the sun won’t shine
Find in hard when you give me the line
Now it seems that we’re living in sin
Oh baby….to find our love again
Tell me now how to face the truth
Tell me how you bring me the line
Now you saying that you bring me line
In the night when we’re spending our time
I remember I was waiting like a fool
When you tell me that love was loaded gun..!
Sometimes..sometimes I remember
Don’t walk away…don’t walk away from me….
I couldn’t found… I couldn’t found the way……..!

Tuesday, September 22, 2009

WAYNE ROONEY LULUS UJI KEDEWASAAN

Bagi pebola muda, menahan gejolak emosi terkadang menjadi hal yang sulit dihindari. Terlebih bila status bintang melingkari si pemain. Namun, semua hal itu berhasil disingkirkan oleh Wayne Rooney. Dia rela berkorban untuk tim dan mengalahkan keinginan hati hingga layak dianggap telah melewati ujian kedewasaan. Beberapa musim terakhir, Rooney sukarela menerima keputusan manajer Sir Alex Ferguson yang sering menempatkannya bukan sebagai striker, posisi favoritnya. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, tersimpan segumpal kekecewaan. “ Aku ingin bermain di posisi terbaikku. Banyak orang berpikir aku bagus bermain sebagai penyerang tengah “, kata Rooney. Kala Christiano Ronaldo dan Carlos Tevez masih ada di Old Trafford, Rooney lebih banyak mengalah. Kelebihan sebagai versatile player malah membuat manajer Sir Alex Ferguson sering menempatkannya di sisi sayap. Fergie berharap akselerasi Rooney diharapkan bisa membuka jalan bagi pemain lain untuk mencetak gol.
Namun, ada hikmah yang bisa dipetik dari semua kejadian. Kini Rooney memiliki skill yang semakin komplit. Lebih dari itu, kebesaran hati yang ditunjukkan membuatnya memiliki level kedewasaan yang semakin meningkat. Paduan keduanya membuat dirinya diyakini akan memegang peran vital di Manchester United di musim ke depan. “ Ada banyak peningkatan yang datang dari dia. Dia belum menyelesaikan artikelnya ( potensi terbaiknya ). Kamu harus meyakinkan pemain muda bahwa ada jalan menurun sebelum melihat pemain yang komplet “, kata manajer Sir Alex Ferguson. “ Rooney merupakan bocah yang suka meluapkan emosi, tapi dia bisa mengendalikannya dalam dua musim terakhir “. tambah legenda MU, Bryan Robson.
Kebetulan, setelah Ronaldo dan Tevez hengkang, kini Fergie menggantungkan harapan besar kepadanya, Tidak ada pemain lain yang sanggup mengemban tugas sebagai tumpuan pencetak gol selain Rooney. Di antara pemain lain yang dimiliki MU, performa Rooney tetap konsisten , meski posisinya di lapangan kerap di otak – atik. Fergie sendiri menilai Rooney akan sanggup mengemban tugas tersebut. Sebab, Rooney dianggap telah terbiasa menghadapi tekanan yang besar. “ Ekspektasi yang di berikan untuknya selalu besar. Ini situasi yang alami namun dia telah membiasakan standar tersebut untuk dirinnya “, bilang Fergie.
Bukan itu saja, Fergie tampaknya juga telah menyimpan rencana khusus untuk Rooney. Dia akan lebih sering di tempatkan di posisi favoritnya sebagai striker. Dengan bermain di posisi tersebut, potensi Rooney diharapkan akan semakin tergali. “ Wayne tidak harus melakukan apapun kecuali menjadi dirinya sendiri “, papar Fergie. Ya, dengan bermain di posisi yang disukainya, Rooney diharapkan bisa menunjukkan jati diri sebagai striker liar yang punya nafsubesar mencetak gol.
SUMBER : Soccer Edisi 04/X Juli 2009

THE SHOW MUST GO ON


Banyak kepedihan tersisa usai tragedi bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jumat 17/7/09. Selain rasa perih akibat banyaknya korban tewas dan luka, luka pun semakin terasa saat Manchester United batal datang ke Jakarta. Namun masih ada efek lain yang juga tak kalah buruk. Bisa jadi karena insiden tersebut pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 ikut terancam. Pesimiskah PSSI ? Ternyata tidak. Melalui ketua umumnya, Nurdin Halid, mereka tetap merasa optimis kalau Indonesia akan mampu menghelat turnamen akbar empat tahunan tersebut. Padahal sebelumnya, Nurdin sudah menyuarakan rasa pesimisnya kalau Indonesia tidak akan mampu menjadi tuan rumah PD 2022 setelah tragedi bom ini terjadi. “ Saat itu, saya pribadi merasa sedih luar bias mendengar tragedi tersebut. Perasaan itu membuat saya langsung berpikir kalau Indonesia bisa gagal jadi tuan rumah ”, kata dia. Namun setelah mengadakan evaluasi selama beberapa hari, Nurdin yakin kalau Indonesia akan berhasil dalam proses bidding ini. Apa pasal ? Nurdin mengacu kepada kondisi Afrika Selatan yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 nanti. “ Disana banyak terjadi tindak kriminal dan bahkan muncul ancaman perang saudara. Tapi itu semua tak menghentikan FIFA menggelar Piala Dunia disana. Begitu pula dengan kami. Tragedi bom sama sekali tak mencerminkan aman atau tidaknya kondisi sebuah negara. “ Jadi the show must go on “, bilang Nurdin.
Nurdin mencontohkan tragedi bom di Inggris yang terjadi beberapa waktu lalu. Tragedi itu nyatanya sama sekali tak memengaruhi perhelatan Premier League yang sudah menjadi agenda tetap Football Association ( FA ) Inggris. “ Semua berjalan lancar seperti biasa. Itu membuktikan kalau bom dan terorisme sama sekali tak berkaitan dengan sepak bola”, tandasnya. Karenanya sejak saat itu, PSSI kembali merasa percaya diri dalam proses pencalonan ini. Apalagi mereka mendapatkan dukungan Ketua Asian Football Confederation ( AFC ), Mohammed Bin Hammam. “ Insiden peledakan bom bisa terjadi di mana – mana, termasuk Indonesia. Bom tidak akan bisa menghalangi kemajuan sepak bola di sebauh negara “, kutip Nurdin meniru ucapan Hammam.
DUKUNGAN MASYARAKAT
Meski mendapat dukungan, namun Nurdin mengakui kalau insiden pengeboman itu secara langsung sudah memengaruhi iklim kondusif di Indonesia. “ Citra bagus yang selama ini sudah dibangun dengan susah payah, kini harus hancur lagi. Tapi, kami menolak kalau dibilang kami harus meyakinkan FIFA mulai dari nol lagi. Kami akan berjuang supaya efek negatifnya tidak terlalu besar “, cetus Nurdin. Keyakinan Nurdin kalau Indonesia akan mampu menghelat Piala Dunia 2022 sebenarnya tak lain berakar dari budaya sepak bola yang begituv mengakar di Indonesia. Kalau dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Australia, sepak bola lebih populer dan mengakar di Indonesia. “ Lihat saja menjelang kedatangan MU ke Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia “ dikepung “ poster dan baliho MU. Tak hanya itu, dukungan masyarakat agar Indonesia mampu menjadi tuan rumah PD 2022 pun tersebar dimana – mana. Itulah yang menjadi motivasi tersendiri bagi kami “, harap Nurdin. Motivasi itulah yang akan dibawa PSSI agar berhasil menjadi tuan rumah Piala Asia 2010 terlebih dahulu, sebelum meyakinkan FIFA untuk piala dunia 2022. PSSI berjanji akan melakukan konsolidasi maksimal dengan keamanan guna mengamankan perhelatan. “ Waktu MU akan datang, Presiden menyatakan dukungannya,apalagi untuk event seperti Piala Asia ini “, pungkas dia.
SUMBER : Soccer Edisi 04/X Juli 2009

LEBIH DARI BABAK BELUR

Panitia lokal alias Local Organizing Comitte ( LOC ) menjadi pihak yang mengalami kerugian terbesar atas kegagalan Manchester United berkunjung ke Indonesia. Diperkirakan kerugian mencapai 30 – 50 miliar rupiah. Jumlah tersebut terbagi dalam beberapa hal seperti match fee untuk MU, sewa stadion, pengembalian ticket dan lain – lain. Berbicara di hadapan wartawan pada selasa (21/7/09), Ketua LOC Agum Gumelar mengatakan 20 miliar rupiah sudah dihabiskan hanya untuk match fee Red Devils. “ Dalam kontrak, mereka ( MU ) mendapatkan bayaran sebesar 2 juta dollar AS ( sekitar Rp 20 M ) untuk berlaga di Jakarta “, bilangnya. Uang tersebut kemungkinan besar akan melayang. Pasalnya, dalam salah satu butir kesepakatan antara LOC dan pihak MU, dana itu tidak bisa dikembalikan kalau terjadi kondisi force majeur.
Agum tengah berupaya agar refund kontrak bisa diberikan pihak MU. Paling tidak, uang kerugian yang ditanggung panitia bisa menajdi lebih kecil dan bisa digunakan untuk keperluan lain. Misalnya untuk mengembalikan uang ticket pertandingan. Disamping harus melunasi pembayaran ticket, LOC masih punya kewajiban membayar sewa Stadion Gelora Bung Karno. Biayanya lebih dari satu miliar rupiah. Itu belum cukup. LOC masih punya kewajiban memberikan hadiah kepada pemenang kuis SMS skuad Indonesia All-Star. Untuk kuis ini, panitia mesti menanggung hadiah utama berupa dua buah mobil kepada pemenang utama dan 22 pemenang lain.
MEKANISME BERBEDA
Bagi panitia, masalah yang paling sulit dihadapi adalah pengembalian uang ticket. Pasalnya, mekanisme penjualan ticket caranya berbeda – beda. Selain menjual langsung kepada masyarakat , LOC menyerahkan distribusi ticket kepada pihak sponsor. Inilah yang jadi persoalan. Pihak sponsor memiliki mekanisme yang berbeda – beda. Biasanya meraka menjual dengan harga yang lebih mahal. Kesulitan itulah yang membuat Djoko Driyono selaku Ketua Dewan Pertandingan tidak menjanjikan pengembalian 100 persen bagi pembeli lewat jalur ini. “ Saat ini belum ada mekanisme khusus yang diputuskan antara pihak LOC dengan pihak korporasi “, ujar Joko. Hal ini juga diamini oleh AIG pihak spaonsor yang menjual ticket. “ Semua masih dibicarakan “ , Imbuh Salama Devi, Head of Office of Customer ( OOC ) Department AIG.
Toh sejak Rabu (22/7/09) lalu, panitia sudah membuka refund ticket pembeli yang membeli via LOC. Pengembalian dilakukan hingga 5 Agustus di sekretariat LOC, dekat pintu I SUGBK. Sementara itu, pada tanggal yang sama, LOC baru mengumumkan mekanisme refund untuk pembelian lewat ticket boks dan sponsor. Bagi pemilik ticket yang membeli ticket lewat LOC, dihimbau membawa bukti KTP dan voucher pembelian. Di hari pertama, tercatat lebih dari 200 pembeli mendatangi lokasi pengembalian ticket. Sejauh ini, penukaran berjalan lancar. Semoga hal yang sama juga terjadi saat penukaran ticket kategori lain dilakukan.
SUMBER : Soccer Edisi 04/X Juli 2009

SPONSOR APPAREL DOMINASI MAP


Kompetisi Liga Super memberikan daya tarik tersendiri bagi sponsor, khususnya apparel. Sejak kompetisi Liga Indonesia digulirkan pada 1994 hingga kini, hampir tak pernah absen produk apparel menghiasi pertarungan antarklub di Indonesia.
Pada tahun pertama hingga ketiga, Adidas mendominasi lewat sponsor apparel resmi LI kepada semua klub. Mulai tahun keempat hal itu berubah karena klub dibebaskan mencari sponsor sendiri. Sayang kompetisi 1997/1998 terhenti karena krisis moneter. Sponsor apparel kembali muncul setelah Reebok menjadi sponsor resmi pada 1999.
Selanjutnya tahun 2000 hingga kini sponsor apparel selalu dibebaskan oleh PSSI. Kran itu pula yang dimanfaatkan klub-klub untuk berlomba bekerja sama dengan produk apparel.
Masuknya PT Mitra Adiperkasa (MAP) dengan membawa produk Lotto, Diadora, Reebok, hingga Puma membuatnya menguasai 80% pasar apparel klub di Indonesia. Bahkan seragam untuk wasit pun kini mereka kuasai.
Paling hanya Vilour yang berani melawan dominasi itu dengan mensponsori Persib. Musim lalu hanya Persipura dan Persiwa serta Persiba dan Pupuk Kaltim tak menggandeng sponsor apparel resmi. Tahun ini mereka pun terus diburu sponsor apparel.
Kondisi itu membuat MAP kini menguasai hampir semua klub-klub besar di Tanah Air, mulai dari Sriwijaya FC (Reebok), Persija (Diadora), hingga Arema (Diadora). Tahun lalu Singo Edan mencoba Puma, yang semuanya juga di bawah kendali MAP sebagai pemegang lisensi resmi produk-produk tersebut di Indonesia.
Arema didukung Diadora
“Memang kami sudah memiliki perjanjian dengan Diadora sebagai pengganti Puma untuk musim ini,” kata Satrija Budi Wibawa, mantan Ketua Harian Arema, saat memberikan penjelasan soal masa transisi (3/8) di Hotel Santika Malang. Sebelumnya, Puma selama dua setengah tahun menjadi sponsor apparel resmi bagi Singo Edan, terhitung sejak sekitar Januari 2007.
Persema Malang pada tahun pertama di liga profesional ikut didekati apparel Lotto. Persema pun mengakui jika perpindahan mereka dari sponsor apparel lokal yang mendukung mereka musim lalu, Vilour, ke Lotto didasari banyak hal. Namun, yang terutama tentu nilai nominal yang diberikan pabrikan apparel asal Italia itu, kini mencapai Rp 2 miliar.
Perbaikan juga dialami Persijap atas masuknya sponsor apparel ini. Maklum, musim-musim sebelumnya mereka hanya mendapatkan diskon atas pembelian seragam. Namun, kini mereka sudah digandeng Diadora.
“Ini prestasi yang luar biasa karena untuk pertama kalinya Persijap mengikat kontrak dengan sebuah apparel. Sebelumnya kami menggunakan apparel tertentu tanpa adanya ikatan kontrak. Hanya mendapat diskon saja karena menggunakan produk mereka,” kata Edy Sujatmiko, manajer Persijap.
Upaya Persijap merintis kerja sama dengan Diadora sesungguhnya sudah dilakukan sejak musim lalu. Bahkan Diadora berniat mengikat kontrak pada paruh kedua musim kompetisi. Namun, dengan berbagai pertimbangan akhirnya kontrak kerja sama dilakukan mulai awal musim ini.
Lain halnya dengan Persela. Laskar Joko Tingkir juga mendapat sponsor resmi apparel baru didapatkan pada pertengahan musim lalu dari Reebok. Selain bisa mengencangkan ikat pinggang keuangan klub, brand Reebok mampu mengangkat citra Persela.
“Bukan tanpa imbalan, meski hanya klub kelas menengah, kami punya ribuan pendukung. Selain itu jumlah siaran langsung serta siaran tunda kami di televisi juga tergolong banyak sehingga Reebok merasa tidak rugi memberikan dukungan kepada kami,” kata Yuhronur Efendi, bendahara Persela. (Ary J./Sahlul F./Indra I./*)
SPONSOR APPAREL
—————————————
Sriwijaya FC Reebok (barter barang)
Persija Diadora (barter barang)
Persib Vilour (Rp 100 juta*)
Persijap Diadora (barter barang)
Pelita Jaya Diadora (barter barang)
Persik Lotto (barter barang)
Persebaya Diadora (barter barang)
PSM Specs (barter barang)
Persema Lotto (barter barang)
Persela Reebok (barter barang)
*; musim lalu
Sumber : http://www.bolanews.com/edisi-cetak/nasional2.htm

PT LIGA INDONESIA ERA BARU LIGA INDONESIA

Badan Liga Indonesia, yang selama ini menjadi profit center PSSI, minggu lalu resmi berganti kulit menjadi PT Liga Indonesia. Institusi ini menjadi sebuah entitas bisnis guna memenuhi syarat serta tantangan yang diajukan oleh AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) bagi asosiasi sepak bola anggota yang ingin mengikuti kompetisi Liga Champion Asia.
Perubahan ini tentu diharapkan dapat mengubah cara pandang pengelolaan kompetisi di Tanah Air. Selain itu, perubahan itu diharapkan pula mendorong klub-klub di kancah Liga Super dan Divisi Utama, yang menjadi lahan garapan PT LI, berubah menjadi entitas bisnis yang serupa.
Sebanyak 99% saham PT LI dimiliki oleh PSSI lewat Yayasan Sepak Bola Indonesia. Sisanya menjadi milik sebuah yayasan pengembangan sepak bola usia muda yang sayangya tak disebutkan secara jelas pemiliknya.
Untuk jajaran komisaris, Nirwan D. Bakrie ditunjuk menjadi Ketua Dewan Komisaris PT LI, sementara Ibnu Munzir, Roegandy Soemardipradja menjadi anggota komisaris. Ketua BLI, Andi Darussalam Tabusalla, menjadi presiden direktur dan Joko Driyono menjadi CEO PT LI.
“Saat ini adalah masa transisi sehingga kepemilikan saham memang tetap menjadi milik PSSI yang juga berarti menjadi milik klub-klub anggotanya. Namun, ke depan PT LI ini akan menjadi milik langsung dari klub-klub yang mengikuti kompetisi profesional di Tanah Air. Paling tidak nanti pada tahun 2012 hingga 2016 saat klub-klub anggota sudah benar-benar profesinal,” jelas Joko perihal perubahan kepemilikan PT LI di masa datang.
Kini, dengan pembentukan PT LI ini, orientasi bisnis menjadi tujuan utama mereka. Sebagai buktinya, dari tahun ke tahun PT LI diharapkan memberikan sumbangan dana ke PSSI yang jumlahnya meningkat.
Saat berbentuk BLI, mereka telah menyetorkan keuntungan Rp 10 miliar (2006) dari total sponsorhip sebesar Rp 30 miliar yang diterima dari Djarum dan Rp 10 miliar dari Dji Sam Soe. Selanjutnya meningkat menjadi Rp 13,5 miliar (2007) dan lebih dari Rp 15 miliar (2008) kepada PSSI. Sayang, pada tahun pertama berwujud PT LI, mereka sepertinya belum terlalu percaya diri untuk menargetkan nilai tertentu yang akan disumbangkan ke PSSI. Bahkan mereka hanya membuat target kompetisi akan berjalan lancar tanpa kerusuhan. Begitu pula dengan permasalahan perizinan yang diharapkan dapat mulus dan tidak menjadi kendala di Tanah Air.
Dalam pengembangan sepak bola, PT LI juga bekerja sama dengan UNJ dalam sports science dan lex sportiva dalam masalah hukum olah raga khususnya sepak bola yang memang masih baru di Indonesia.
Sumber : http://www.bolanews.com/edisi-cetak/nasional6.htm

KISAH KEMATIAN NABIYULLAH ADAM AS



Hadist ini menceritakan tenteng bapak kita, Adam manakala maut datang menjemputnya Adam rindu buah Surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada Surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu Surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.
Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah Surga merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagaian hadis menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun – tahun umurnya. Dia menghitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun – tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam Akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak – anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus Surga lalu memetik buahnya. Anak – anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada Bapak mereka mendorong mereka untuk berangkat mencari.
Belum jauh anak – anak Adam meninggalkan bapaknya, mereka telah dihadang oleh beberapa yang menjelma dalam wujud orang laki – laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati. Para Malaikat memeperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini, Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa cangkul, kapak, dan sekopyang lazim diperlukan untuk menggali kubur.
Ketika anak – anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para Malaikat memeinta mereka untuk pulang kepada Bapak mereka, karena Bapak mereka telah habis umurnya dan di tetapkan ajalnya.
Manakala para Malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rosul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan ( diberi kehidupan dan akhirat ) sebagaimana yang disampaikan ROSULULLOH SAW kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata ” Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu “. Adam mengisyaratkan  rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga.


Para Malaikat mengambil ruh Adam, Mereka sendirilah yang yang mengurus jenazah dan menguburkannya,  sementara anak – anak Adam melihat mereka.  Para Malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memeberinya wangi – wangian, mengali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalam, lalu menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak – anak Adam. Mereka berkata ” Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian “ . Yakni,  cara yang Alloh pilih untuk kalian dalam hal mengurusi mayat kalian.


Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh Rosul dan semua orang yang beriman di bumi ini, mulai sejak itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dari petunjuk Alloh, yang besar kecilnya tergantung pada kadar penyimpangannya. Barang siapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh ROSULULLAH SAW, niscaya dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para Malaikat kepada Adam.


Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati, ada yang membangun bangunan – bangunan megah seperti pyramid untuk menguburkan orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara, dan perhisasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayat di kotak kayu atau batu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan haya membuang – buang energi untuk sesuatu yang tidak berguna. Dan yang paling utama semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Alloh syariatkan kepada mayat Bani Adam.


sumber : Ensiklopedia Kisah Shahih Sepanjang Zaman

Monday, September 21, 2009

Pengertian Wahabi

Orang-orang biasa menuduh "wahabi" kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid'ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Quranul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdoa (memohon) hanya kepada Allah semata.
Suatu kali, di depan seorang Syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawawiyah. Hadits ini berbunyi:
"Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Penulis sungguh kagum dengan terhadap keterangan Imam Nawawi ketika beliau mengatakan, "Kemudian jia kebutuhan yang dimintanya --menurut tradisi-- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan, maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela."
Lalu kepada Syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah." Ia lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan."
Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa'd" (1) dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat kepadamu?!" Ia menjawab, "Aku berdoa (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku."
Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil aqidah dari bibimu yang bodoh itu."
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi, kecuali sekadar yang penulis dengar dari para Syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.
Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits, dan fiqh.
Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang Syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, lalu beliau duduk di kursi dantak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang Syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu Syaikh membuka pelajaran-pelajaran dengan ucapan, "Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan...", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam biasa membuka khutbah dan pelajarannnya.
Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahih-nya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Quranun Karim dan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.(2) Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqab (memanggil dengan panggilan- panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firman-Nya, "Dan janganlah kamu panggil-mamanggil dengan gelar-gelaran yang buruk." (Al-Hujurat: 11)
Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, "Jika rafidhah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah."
Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi."
Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, "Inilah Syaikh yang sesungguhnya!"

A. Pengertian wahabi

Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab. Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya, yaitu Muhammad. Betapa pun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang baik (Asmaa'ul Husnaa).

B. Muhammad bin Abdul Wahab

Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hanbali, belajar hadits dan tafsir kepada para Syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Memelihara kemurnian tauhid dari syirik, khurafat dan bid'ah, sebagaimana banyak ia saksikan di Nejed dan negeri-negeri lainnya. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para shahabat, keluarga Nabi, (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan, kecuali kepada Allah semata.
Di Madinah, Ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, serta berdoa (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Quran dan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Al-Quran menegaskan,
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika berbuat (yang demikian itu), sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (Yunus: 106)
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:
"Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaummnya kepada tauhid dan berdoa (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan, sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

1. Penentangan orang-orang batil terhadapnya:

Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shaad: 5)
Musuh-musuh Syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhana wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong sehingga dakwah tauhid tersebar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya, mereka mengatakan dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima(3), padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hanbali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam serta tidak bershalawat di atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab - rahimahullah- telah menulis kitab Mukhtashar Siiratur Rasul shalallahu 'alaihi wasallam. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Quran, hadits dan ucapan shahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.

2. Dalam sebuah hadits disebutkan;

"Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasulullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali radhiallahu 'anhuma dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi Iraq. Bahkan sebaliknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.

3. Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddi (pembaharu) abad dua belas Hijriyah.

Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-Tokoh Sejarah", di atanra mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, aqidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi aqidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan, karena mereka mengetahui bahwa aqidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah (orang-orang bayaran) agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah sehingga memalingkan umat Islam dari aqidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdoa hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pember), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikananya masuk Surga.

Jaring-jaring Setan itu Bernama Ghuluw


Setan tak hanya menyerang orang-orang yang bergelimang maksiat, namun juga menjerat hamba-hamba-Nya yang gemar beribadah.

Sesungguhnya setan menggunakan dua cara untuk menyesatkan umat Islam. Cara pertama digunakan untuk mengelabui seorang muslim yang bergelimang maksiat. Yaitu dengan menjadikan maksiat yang ia lakukan seakan-akan sesuatu yang indah. Sehingga ia tetap akan jauh dari ketaatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Al-Jannah dikelilingi oleh segala hal yang tidak disukai, sementara An-Naar itu diliputi dengan syahwat.” (HR. Al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822)
Adapun cara kedua digunakan oleh setan untuk menyesatkan seorang muslim yang gemar beribadah. Yaitu dengan mengajaknya berlaku ghuluw (melampaui batas) di dalam beribadah. Sehingga justru agamanya akan rusak. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk bersikap ghuluw. (Muqaddimah Asy-Syaikh Al-Abbad, kitab Bi Ayyi ‘Aqlin wa Dinin)
Al-Imam Makhlad bin Al-Husain rahimahullahu pernah berkata, “Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat kebaikan melainkan Iblis akan menghadangnya dengan dua cara. Iblis tidak ambil peduli dengan cara apa dia akan menguasainya. Antara bersikap ghuluw di dalam amalan tersebut ataukah sikap meremehkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 9/236)

Definisi Al-Ghuluw
Al-Ghuluw secara bahasa bermakna melebihi batasan. Berasal dari kata غَلَا فِي الْأَمْرِ –يَغْلُو-غُلُوًّا. Hal ini sebagaimana dijabarkan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shihah, Ibnu Faris di dalam Al-Mu’jam, Ibnu Manzhur di dalam Al-Lisan, dan Az-Zabidi di dalam Tajul ‘Arus.
Di dalam penggunaannya, seluruh lafadz “ghuluw” selalu bermakna melebihi ukuran dan batasan. Sebagai contoh adalah hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Al-Bukhari (no. 2518). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang budak yang terbaik untuk dibebaskan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَغْلاَهَا ثَمَنًا، وَأَنْفعُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا
“Budak yang paling tinggi harganya dan terbanyak manfaatnya bagi sang majikan.” Kalimat غلَاءُ الثَّمَنِ artinya harganya naik dan melebihi batas kebiasaan.
Demikian pula, sebagai contoh lain, hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ
“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang dipasangkan dua bara api pada telapak kakinya kemudian otaknya mendidih sebagaimana periuk itu mendidih.” (HR. Al-Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)

Kalimat غلَاءُ الْمِرْجَلِ artinya periuk yang bertambah panasnya dan naik panasnya dari kebiasaan.
Syaikhul Islam rahimahullahu mendefinisikan ghuluw dengan menyatakan, “Melebihi dari batas, yaitu dengan menambahkan pujian atau celaan dari hak yang seharusnya, dan yang semisal itu.” (Iqtidha’ush Shirath, 1/328)
Adapun di dalam syariat, ghuluw bermakna melebihi batasan yang telah ditetapkan oleh syariat. (Al-Ghuluw, Ali Al-Haddadi, hal. 13)

Haramnya Ghuluw
Dienul Islam adalah ajaran yang diturunkan dari sisi Sang Khaliq, yang telah menciptakan langit dan bumi berikut segenap isinya. Sehingga, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengetahui sebatas mana kemampuan dan kekuatan manusia. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan syariat yang sesuai dengan kemampuan mereka. Dienul Islam datang membawa kemudahan bagi pengikutnya, ajaran yang tidak menghendaki adanya keberatan dan kesusahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)
Maka dari itu, sikap ghuluw dan berlebih-lebihan adalah kesesatan serta jauh dari tujuan-tujuan suci. Berikut ini beberapa dalil tentang haram dan tercelanya sikap ghuluw. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُوا عَلَى اللهِ إِلاَّ الْحَقَّ
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’: 171)
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 77)
Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw di dalam beragama. Sementara setiap pembicaraan yang ditujukan kepada ahlul kitab di dalam Al-Qur’an dalam bentuk perintah atau larangan juga ditujukan kepada umat Islam. Karena merekalah yang diajak berbicara di dalam Al-Qur’an. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw, maka umat Islam lebih pantas untuk dilarang. (Al-Ghuluw, ‘Ali bin Yahya, hal. 15)
Di dalam Al-Qur’an juga dengan tegas melarang kita dari sikap melampaui batas. Sementara melampaui batas yang telah diterangkan oleh syar’i merupakan hakikat ghuluw. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman kepada Nabi-Nya berikut para pengikut beliau:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (Hud: 112)
Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang haramnya ghuluw sangat banyak. Di antaranya adalah sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -قَالَهَا ثَلاَثًا
“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” Beliau mengulangi pernyataan ini sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim no. 2670)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu di dalam Syarah Muslim menjelaskan, “Yang dimaksud orang-orang yang bersikap tanaththu’ adalah mereka yang berlebih-lebihan, bersikap ghuluw, dan melampaui batas dari yang telah ditentukan. Baik di dalam ucapan ataupun perbuatan.”
Seseorang yang bersikap tanaththu’ akan mengalami kehancuran. Ia akan merugi. Karena sikap tersebut akan mendorongnya untuk terjatuh dalam dosa kesombongan dan ujub (bangga diri). Ia melihat dirinya telah banyak melakukan amalan shalih. Setan menipunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang penipuan setan ini:
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 12)
Seharusnya seorang muslim takut bila termasuk golongan yang tidak mendapatkan syafa’at dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat karena perbuatan ghuluw. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu:
صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ
“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan memperoleh syafa’at dariku. Yaitu seorang pemimpin yang selalu berbuat zalim dan setiap orang yang berlaku ghuluw, keluar dari jalan kebenaran.” (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam Ash-Shahihah)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita tentang bahaya ghuluw dengan memberat-beratkan diri di dalam beribadah. Karena sesungguhnya dienul Islam ini adalah ajaran yang mudah untuk diamalkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama Islam ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberat-beratkan dirinya dalam beragama melainkan dia tidak mampu menjalankannya.” (HR. Al-Bukhari no. 39 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menerangkan bahwa makna hadits ini ialah larangan bagi seseorang yang hendak memberatkan diri dalam amalan din, serta dia meninggalkan kelembutan karena dia tidak akan mampu untuk meneruskan amalan tersebut, berhenti dari ibadah dan pada akhirnya dia akan mengalami kekalahan. (Fathul Bari, ketika mensyarah hadits diatas)
Al-Imam Ibnu Al-Munayyir rahimahullahu berkata, “Di dalam hadits ini juga terdapat salah satu tanda-tanda kenabian. Sungguh kami sendiri telah menyaksikan sebagaimana orang-orang sebelum kami juga telah menyaksikan. Bahwa setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam beragama pasti akan berhenti. Hal ini bukan bermakna larangan untuk mencari kesempurnaan di dalam ibadah, karena perkara seperti ini sangat terpuji. Hanya saja yang dilarang adalah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya kepada kejenuhan. Demikian juga bila sikap tersebut mengakibatkan dia meninggalkan perkara yang lebih afdhal atau yang berakibat pelaksanaan sesuatu yang wajib bukan pada waktunya. Seperti seseorang yang semalam suntuk shalat malam. Dia akan merasakan kantuk yang sangat berat di pengujung malam. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah.” (Fathul Baari)
Sebagai bentuk cinta dan kasih sayang, dalam setiap kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membimbing umat untuk menjauhi sikap ghuluw. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ
“Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Adh-Dhiya’. Hadits ini ditakhrij dalam Ash-Shahihah no. 1238)
Larangan ghuluw ini sebenarnya dipicu sebuah kejadian di pagi hari Aqabah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa beliau diminta oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ketika itu sedang berada di atas kendaraannya, untuk memungut kerikil-kerikil. Setelah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyerahkan kerikil-kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meletakkannya di tangan lalu bersabda:
“Hendaknya dengan kerikil-kerikil semacam inilah. Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.”
Walaupun larangan ini dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena disebabkan sebuah peristiwa secara khusus, namun hukum ini berlaku secara umum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ketika membicarakan hadits di atas berkata, “(Larangan ini) bersifat umum, mencakup seluruh jenis ghuluw. Di dalam perkara keyakinan maupun amalan.”
Saudaraku... sikap ghuluw adalah sikap tercela sebagai warisan dari ahlul kitab. Kita dilarang untuk meniru mereka. Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُشَدِّدُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلَكُمْ بِتَشْدِيدِهِمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَسَتَجِدُونَ بَقَايَاهُمْ فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارَاتِ
“Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian. Karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian hanyalah disebabkan mereka memberat-beratkan diri. Dan kalian akan menemukan sisa-sisa mereka di dalam pertapaan dan biara.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam At-Tarikh. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah, 3124)
Di dalam perkara yang dianggap biasa sekalipun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menjauhi sikap berlebihan. Perkara memuji seseorang adalah satu hal yang biasa dilakukan. Namun apabila pujian tersebut disampaikan secara berlebihan justru akan menyeret pada dampak yang berbahaya. Orang yang dipuji secara berlebih tentu akan merasa ujub dan sombong.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu meletakkan sebuah bab di dalam Shahih Muslim, Bab Larangan Memuji, apabila berlebihan dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah (ujian) bagi orang yang dipuji. Dari Abu Musa Al-’Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain dan berlebihan di dalam memuji. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:
لَقَدْ أَهْلَكْتُمْ -أَوْ قَطَعْتُمْ- ظَهْرَ الرَّجُلِ
“Sungguh kalian telah mencelakakan orang tersebut.”
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk menaburkan pasir ke wajah orang yang senang berlebihan di dalam memuji sebagaimana dikabarkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu.
Secara khusus lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari sikap berlebih-lebihan di dalam memuji beliau. Karena kekhawatiran beliau bahwa umat Islam akan jatuh pada kesalahan yang dilakukan orang-orang Nasrani. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu meriwayatkan sebuah hadits dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam memuji diriku sebagaimana orang-orang Nashara berlebih-lebihan di dalam memuji Ibnu Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.”
Betapa besar perhatian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat Islam. Beliau benar-benar sayang dan mencintai pengikutnya. Semua telah ditunjukkan sepanjang hidup beliau. Di antara sekian banyak buktinya adalah pengingkaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang sahabat yang bernadzar untuk melakukan sesuatu yang berat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, beliau melihat seseorang sedang berdiri di bawah terik matahari. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang orang tersebut. Para sahabat menjawab, “Dia adalah Abu Israil. Dia bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari dan tidak akan duduk, juga tidak ingin berteduh atau berbicara dalam keadaan dia berpuasa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ
“Perintahkan dia untuk berbicara, juga berteduh dan duduk, lalu menyempurnakan puasanya.” (HR. Al-Bukhari)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata, “Nadzar yang diucapkan sahabat ini mengandung perkara yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ada pula yang tidak dicintai-Nya. Adapun yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah puasa. Karena puasa bagian dari ibadah. Sementara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: ‘Barangsiapa yang bernadzar di dalam ketaatan kepada Allah hendaknya ia tunaikan nadzarnya dengan menaatinya.’
Adapun perbuatan sahabat itu yang berdiri di bawah terik matahari tanpa berteduh. Demikian juga sikapnya yang tidak mau berbicara. Hal ini tidaklah dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabat tersebut untuk meninggalkan nadzarnya.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Kesimpulannya, kebaikan yang hendak kita kejar haruslah dengan pertimbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah disertai pemahaman salaful ummah. Tidak setiap amalan yang kita anggap baik benar-benar sebuah kebaikan, kecuali dengan dilandaskan oleh dalil.
Wallahu a’lam.

MENGENAL BID'AH

Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur'an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur'an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan".
Para shahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".

Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak".
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
"Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)"

Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan mereka menyatakan pula :
"Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)"

Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan adat itu sendiri terbagi tiga :
Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).
Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.
Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam.*****
(Al Fatawa As Sa`diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar'ah Al Muslimah)