Tuesday, September 22, 2009

KISAH KEMATIAN NABIYULLAH ADAM AS



Hadist ini menceritakan tenteng bapak kita, Adam manakala maut datang menjemputnya Adam rindu buah Surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada Surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu Surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.
Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah Surga merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagaian hadis menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun – tahun umurnya. Dia menghitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun – tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam Akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak – anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus Surga lalu memetik buahnya. Anak – anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada Bapak mereka mendorong mereka untuk berangkat mencari.
Belum jauh anak – anak Adam meninggalkan bapaknya, mereka telah dihadang oleh beberapa yang menjelma dalam wujud orang laki – laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati. Para Malaikat memeperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini, Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa cangkul, kapak, dan sekopyang lazim diperlukan untuk menggali kubur.
Ketika anak – anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para Malaikat memeinta mereka untuk pulang kepada Bapak mereka, karena Bapak mereka telah habis umurnya dan di tetapkan ajalnya.
Manakala para Malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rosul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan ( diberi kehidupan dan akhirat ) sebagaimana yang disampaikan ROSULULLOH SAW kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata ” Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu “. Adam mengisyaratkan  rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga.


Para Malaikat mengambil ruh Adam, Mereka sendirilah yang yang mengurus jenazah dan menguburkannya,  sementara anak – anak Adam melihat mereka.  Para Malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memeberinya wangi – wangian, mengali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalam, lalu menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak – anak Adam. Mereka berkata ” Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian “ . Yakni,  cara yang Alloh pilih untuk kalian dalam hal mengurusi mayat kalian.


Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh Rosul dan semua orang yang beriman di bumi ini, mulai sejak itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dari petunjuk Alloh, yang besar kecilnya tergantung pada kadar penyimpangannya. Barang siapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh ROSULULLAH SAW, niscaya dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para Malaikat kepada Adam.


Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati, ada yang membangun bangunan – bangunan megah seperti pyramid untuk menguburkan orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara, dan perhisasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayat di kotak kayu atau batu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan haya membuang – buang energi untuk sesuatu yang tidak berguna. Dan yang paling utama semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Alloh syariatkan kepada mayat Bani Adam.


sumber : Ensiklopedia Kisah Shahih Sepanjang Zaman

No comments:

Post a Comment